Senin, 01 Desember 2014

tak ada salahnya menghadapi segala kemungkinan

“Tidak ada salahnya menghadapi segala kemunginan toh“, ini adalah salah satu dialog favorit saya pada film petualangan sherina saat saya duduk dibangku sekolah dasar. Hidup ini memang tak ada yang  bisa menebaknya, kadang kita tertawa bersiap untuk menangis, bangkit bersiap untuk jatuh, bertemu bersiap untuk berpisah.

Saya jadi ingat seorang janda pernah membagi kisahnya kepada saya, ia sungguh hebat membiayai kedua anaknya menempuh pendidikan dengan jerih payahnya sendiri dan tak sepeserpun ia diberi uang dari mantan suaminya. Si janda sangat bersyukur karna dia tepat mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan pekerjaannya setelah dia menikah dengan si mantan suami. Tak bisa dibayangkan jika saat itu dia berhenti bekerja, pasti harga diri sekali mengemis-ngemis dengan lelaki yang sudah menyakitinya. Maka dari itu tak ada salahnya seorang perempuan menjadi wanita karir untuk mengadapi segala kemungkinan, contoh kasusnya si janda mungkin.

Dari si janda , teori selingkuh bagi yang belum mempunyai ikatan pernikahan, dia bagikan pada saya , jika mencintai seseorang janganlah 100% . cintailah dirimu sendiri 50%, keluarga dan sahabat 35%, dan kekasihmu 15%. Jangan terlalu banyak untuk kekasih karna belum pantas untuknya. Dengan mencintai kekasih hanya 15% jika ia menyakiti atau meninggalkan kita tidak akan terlalu sakit. Memiliki pacar lebih dari satu juga sangat disarankan untuk perempuan, karna kita harus menyeleksi pria terbaik yang akan mendampingi hidup mu sampai mati.

Lima pacar saja cukup katanya, dengan dibagi hari pertemuan. Yaitu hari senin –kamis untuk kekasih yang menurut kamu  mendekati kriteria pasangan hidup mu , dan hari sabtu untuk kekasih yang special yang benar-benar criteria mu , karna waktu pertemuan lebih panjang dibanding hari senin-kamis. Jika kamu ketahuan selingkuh diantara salah satu dari mereka makan yang tiga naik level yang tadinya mungkin hari senin naik ke hari sabtu. Sesuai selera sang pengelana. (hahaha)
Sayangnya teori ini tidak berlaku untuk hidup saya, saya memilih setia, setia memandanginya dari kejauan, setia menunggunya kembali berkomunikasi via line dengan saya hingga larut, setia memerhatikan motornya yang saya hafal nomer serinya dan helmnya yang berwarna hitam berpadu dengan coklat kekinian. Saya setia memantau perkembangan bakatnya di media social, saya halaf gayanya berbahasa. Kalian tau umur saya berapa ? saya berumur 19th tahun ini, dan saya masih besikap seperti ini , kekanak-kanakan katanya.

Saya menikmatinya, sampai jantung ini rasanya terhenti ketika saya memergokinya jalan bersama perempuan yang saya sudah kenal baik keburukannya. Saya marah dengan pilihannya, separah itukah ? dan perempuan itu sudah memiliki kekasih! Apakah ini wajar? Mungkin perempuan itu menganut teori dari si janda tadi. Memang saya bukan siapa-siapa, tapi komunikasi kita belum selesai, masih ada yang ingin saya bagi, mengapa hanya seperti ini? Dia? Tidak ada yang lain kah?.


Lalu kemungkinan seperti apa yang saya harus hadapi? Dialog dalam film kata hati memang benar, “jatuh cinta itu  indah, indah kalau tidak di simpan sendiri” . kemungkinan patah hati mungkin. Hari ini saya menulis karna tak sanggup lagi menampung berbagai argument dikepala. Saya lupa akan dialog film petualngan sherina yang mengatakan “tak ada salahnya menghadapi segala kemungkinan” saya terlalu asik mengagumi tanpa memikirkan kemungkinan patah hati.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda