tak ada salahnya menghadapi segala kemungkinan
“Tidak ada salahnya menghadapi
segala kemunginan toh“, ini adalah salah satu dialog favorit saya pada film
petualangan sherina saat saya duduk dibangku sekolah dasar. Hidup ini memang
tak ada yang bisa menebaknya, kadang
kita tertawa bersiap untuk menangis, bangkit bersiap untuk jatuh, bertemu
bersiap untuk berpisah.
Saya jadi ingat seorang janda
pernah membagi kisahnya kepada saya, ia sungguh hebat membiayai kedua anaknya
menempuh pendidikan dengan jerih payahnya sendiri dan tak sepeserpun ia diberi
uang dari mantan suaminya. Si janda sangat bersyukur karna dia tepat mengambil
keputusan untuk tetap mempertahankan pekerjaannya setelah dia menikah dengan si
mantan suami. Tak bisa dibayangkan jika saat itu dia berhenti bekerja, pasti
harga diri sekali mengemis-ngemis dengan lelaki yang sudah menyakitinya. Maka
dari itu tak ada salahnya seorang perempuan menjadi wanita karir untuk
mengadapi segala kemungkinan, contoh kasusnya si janda mungkin.
Dari si janda , teori selingkuh
bagi yang belum mempunyai ikatan pernikahan, dia bagikan pada saya , jika
mencintai seseorang janganlah 100% . cintailah dirimu sendiri 50%, keluarga dan
sahabat 35%, dan kekasihmu 15%. Jangan terlalu banyak untuk kekasih karna belum
pantas untuknya. Dengan mencintai kekasih hanya 15% jika ia menyakiti atau
meninggalkan kita tidak akan terlalu sakit. Memiliki pacar lebih dari satu juga
sangat disarankan untuk perempuan, karna kita harus menyeleksi pria terbaik
yang akan mendampingi hidup mu sampai mati.
Lima pacar saja cukup katanya,
dengan dibagi hari pertemuan. Yaitu hari senin –kamis untuk kekasih yang
menurut kamu mendekati kriteria pasangan
hidup mu , dan hari sabtu untuk kekasih yang special yang benar-benar criteria
mu , karna waktu pertemuan lebih panjang dibanding hari senin-kamis. Jika kamu
ketahuan selingkuh diantara salah satu dari mereka makan yang tiga naik level
yang tadinya mungkin hari senin naik ke hari sabtu. Sesuai selera sang
pengelana. (hahaha)
Sayangnya teori ini tidak berlaku
untuk hidup saya, saya memilih setia, setia memandanginya dari kejauan, setia
menunggunya kembali berkomunikasi via line dengan saya hingga larut, setia
memerhatikan motornya yang saya hafal nomer serinya dan helmnya yang berwarna
hitam berpadu dengan coklat kekinian. Saya setia memantau perkembangan bakatnya
di media social, saya halaf gayanya berbahasa. Kalian tau umur saya berapa ?
saya berumur 19th tahun ini, dan saya masih besikap seperti ini ,
kekanak-kanakan katanya.
Saya menikmatinya, sampai jantung
ini rasanya terhenti ketika saya memergokinya jalan bersama perempuan yang saya
sudah kenal baik keburukannya. Saya marah dengan pilihannya, separah itukah ?
dan perempuan itu sudah memiliki kekasih! Apakah ini wajar? Mungkin perempuan
itu menganut teori dari si janda tadi. Memang saya bukan siapa-siapa, tapi
komunikasi kita belum selesai, masih ada yang ingin saya bagi, mengapa hanya
seperti ini? Dia? Tidak ada yang lain kah?.
Lalu kemungkinan seperti apa yang
saya harus hadapi? Dialog dalam film kata hati memang benar, “jatuh cinta
itu indah, indah kalau tidak di simpan
sendiri” . kemungkinan patah hati mungkin. Hari ini saya menulis karna tak
sanggup lagi menampung berbagai argument dikepala. Saya lupa akan dialog film
petualngan sherina yang mengatakan “tak ada salahnya menghadapi segala
kemungkinan” saya terlalu asik mengagumi tanpa memikirkan kemungkinan patah
hati.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda